Tuesday, October 16, 2012

Kertas Kerja Audit dan Program Audit


1.      KERTAS KERJA AUDIT dan PROGRAM AUDIT
Kertas Kerja Audit (KKA) merupakan catatan catatan yang dibuat dan data data yang dikumpulkan auditor secara sistematis pada saat melaksanakan tugas audit.
2.      MANFAAT KERTAS KERJA AUDIT
a.       Merupakan dasar penyusunan laporan hasil audit.
b.      Merupakan alat bagi atasan untuk mereview dan mengawasi pekerjaan para pelaksana audit.
c.       Merupakan alat pembuktian dari laporan hasil audit.
d.      Menyajikan data untuk keperluan referensi.
e.       Merupakan salah satu pedoman untuk tugas audit berikutnya.
Penyusunan KKA oleh auditor harus memenuhi syarat syarat sebagai berikut :
a.       Lengkap
b.      Bebas dari kesalahan
c.       Didasarkan atas fakta dan argumentasi yang rasional
d.      Sistematis, bersih, mudah dipahami, dan diatur dengan rapi
e.       Memuat hal hal penting yang relevan dengan audit
f.       Mempunyai tujuan yang jelas
g.      Sedapat mungkin hindari pekerjaan menyalin ulang
h.      Dalam setiap kertas kerja harus mencantumkan kesimpulanhasil audit dan komentar atau catatan reviewer.
Bentuk dan Isi Kertas Kerja Audit
Bentuk KKA pada audit manajemen audit menekankan kepada bagaimana menyiapkan temuan temuan audit untuk digunakan dalam penyusunan laporan audit.
a.       Pada Sampul ditulis “Kertas Kerja Audit” kemudian dibawahnya Nama Objek audit, Program Aktivitas yang diaudit dan Periode Audit.
b.      Halaman pertama berisi Daftar Isi
c.       Halaman berikutnya daftar symbol audit, tembusan surat tugas, program kerja audit dan kelompok-kelompok kertas kerja.



Isi dan pengelompokan kertas kerja disusun sebagai berikut :
Kelompok 1 – AUDIT PENDAHULUAN, meliputi :
Subkelompok 1 : Program audit pendahuluan
Subkelompok 2 : Hasil audit pendahuluan, meliputi :
a.       Informasi umum tentang program/aktivitas yang diaudit
b.      Penelaahan berbagai peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan program/aktivitas yang diaudit
c.       Ikhtisar hasil temuan audit pendahuluan
Kelompok 2 – REVIEW DAN PENGUJIAN PENGENDALIAN MANAJEMEN, meliputi :
Subkelompok 1 : Program kerja audit atas review dan pengujian pengendalian manajemen termasuk ICQ yang digunakan.
Subkelompok 2 : hasil audit atas review dan pengujian pengendalian manajemen, meliputi :
a.       Penelaahan terhadap berbagai peraturan dan kebijakan yang berlaku pada objek audit
b.      Ikhtisar hasil temuan audit atas review dan pengujian pengendalian manajemen
Kelompok 3 – AUDIT LANJUTAN, meliputi :
Subkelompok 1 : Program kerja audit lanjutan
Subkelompok 2 : Hasil audit lanjutan, terdiri atas :
a.       Pengembangan temuan
b.      Daftar temuan dan rekomendasi
Kelompok 4 – LAPORAN HASIL AUDIT, meliputi :
Konsep laporan hasil audit dan tembusan laporan hasil audit.

3.      PENGORGANISASIAN KERTAS KERJA AUDIT
Pengelompokkan KKA harus didasarkan pada sasaran utama atau sub subtujuan audit yang telah ditetapkan. KKA pada audit manajemen mengelompokkan bukti bukti yang diperoleh sesuai dengan elemen tujuan audit.
4.      PROGRAM KERJA AUDIT
Manfaat dari penyusunan program kerja audit antara lain :
a.       Merupakan suatu rencana yang sistematis tentang setiap tahap kegiatan yang bias dikomunikasikan kepada setiap tim audit.
b.      Merupakan landasan yang sistematis dalam memberikan tugas kepada para auditor dan supervisornya.
c.       Sebagai dasar untuk membandingkan pelaksanaan kegiatan dengan rencana yang telah disetujui dan dengan standar serta persyaratan yang telah ditetapkan
d.      Dapat membnatu para auditor yang belum berpengalaman dan membiasakan mereka dengan ruang lingkup, tujuan serta langkah langkah kegiatan audit.
e.       Dapat membantu auditor untuk mengenali sifat pekerjaan yang telah dikerjakan sebelumnya.
f.       Dapat mengurangi kegiatan pengawasan langsung oleh supervisor.

Setiap program kerja audit biasanya mengandung empat hal pokok yaitu :
a.       Informasi Pendahuluan
b.      Pernyataan tujuan audit
c.       Instruksi-instruksi khusus
d.      Langkah-langkah kerja

Ketentuan dalam penyusunan program kerja audit:
a.       Tujuan audit harus dinyatakan secara jelas dan memungkinkan untuk dapat dicapai
b.      Setiap langkah pemeriksaan harus merinci prosedur audit yang harus dilakukan
c.       Setiap langkah pemeriksaan harus berbentuk instruksi-instruksi mengenai pekerjaan yang harus dilakukan
d.       Program audit harus menggambarkan ututan prioritas langkah-langkah pemeriksaan yang dilaksanakan
e.       Program audit harus fleksibel namun setiap perubahan harus dengan persetujuan supervisor
f.       Program audit harus berisi informasi yang perlu untuk dapat dilaksanakan dan dievaluasi secara tepat
g.      Program audit tidak boleh memuat perintah untuk memperoleh informasi yang telah ada dalam permanen file, tetapi cukup menunjuk file yang bersangkutan
h.      Program audit harus menyertakan taksiran waktu yang diperlukan sesuai
i.        Audit Program merupakan kumpulan dari prosedur audit yg akan dijalankan dan dibuat secara tertulis.

Manajemen Audit

Langkah-Langkah Audit:
1. Audit pendahuluan
2. Review terhadap pengendalian manajemen
3. Audit lanjutan
4. Pelaporan
5. Tindak lanjut


Audit Pendahuluan
Audit pendahuluan dilakukan dalam rangka mempersiapkan audit lebih dalam. Audit ini lebih ditekankan pada usaha untuk memperoleh informasi latar belakang tentang objek audit. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan berkaitan dengan pelaksanaan audit ini, antara lain:

1. Pemahaman auditor terhadap objek audit
Objek audit meliputi keseluruhan perusahaan dan/atau kegiatan yang dikelola oleh perusahaan tersebut dalam rangka mencapai tujuannya. Untuk mencapai tujuannya, objek audit menetapkan berbagai program yang pelaksanaannya dijabarkan ke dalam berbagai bentuk kegiatan. Auditor harus mengkomunikasikan dengan atasan pengelola objek atau pemberi tugas audit tentang pemahamannya terhadap berbagai program/aktivitas objek audit untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman. Komunikasi ini lebih efektif jika dilakukan secara tertulis, dengan meminta tanggapan pemberi tugas audit tentang hal-hal berikut:
- Informasi yang mendukung tujuan audit.
- Informasi yang mengarahkan ruang lingkup audit
- Informasi yang mengarah pada tujuan audit

2. Penentuan tujuan audit
Tujuan audit harus mengacu pada alasan mengapa audit harus dilakukan pada objek audit dan didasarkan pada penugasan audit. Dalam merumuskan tujuannya, auditor dapat melakukannya dengan cara sebagai berikut:
- Mengidentifikasi tujuan yang ada, yang mungkin mempunyai arti penting pada pemberi tugas.
- Mempertimbangkan tujuan audit yang telah ditetapkan pada masa sebelumnya.
- Membahas dengan pemberi tugas dan pengelola objek audit

3. Penentuan ruang lingkup dan tujuan audit
Ruang lingkup audit menunjukkan luas(area) dari tujuan audit. Penentuan ruang lingkup audit harus mengacu pada tujuan audit yang telah ditetapkan. Secara garis besar ruang lingkup audit manajemen terdiri atas:
Bidang keuangan
Ketaatan kepada peraturan dan kebijakan perusahaan
Ekonomisasi
Efisiensi
Efektivitas
Tujuan audit adalah target yang akan diaudit. Ada tiga elemen pentig dalam setiap tujuan audit, yaitu:
Kriteria
Penyebab
Akibat

4. Review terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berkaitan dengan objek audit
Review(penelaahan) ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang peraturan-peraturan yang berhubungan dengan objek audit baik bersifat umum maupun yang berhubungan khusus dengan berbagai program/aktivitas yang diselenggarakan pada objek audit. Dengan penelaahan ini auditor dapat memahami batas-batas wewenang objek audit dan berbagai program yang dilaksanakan dalam mencapai tujuannya.

5. Pengembangan kriteria awal dalam audit
Kriteria adalah norma atau standar yang merupakan pedoman bagi setiap individu maupun kelompok dalam melakukan aktivitasnya di dalam perusahaan. Faktor yang mempengaruhi kriteria yang akan digunakan dalam audit antara lain:
Tujuan dari kegiatan yang diaudit
Pendekatan audit
Aktivitas tujuan audit
Karakteristik kriteria yang baik antara lain:
- Realistis
- Dapat dipercaya
- Bebas dari pengaruh kelemahan manusia
- Mengarah pada temuan-temuan dan kesimpulan untuk memenuhi kebutuhan informasi pemberi tugas audit
- Dirumuskan secara jelas dan tidak mengandung arti ganda yang dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda
- Dapat dibandingkan
- Diterima semua pihak
- Lengkap
- Memastiksn adanya rentang waktu pada saat suatu kejadian/kegiatan berlangsung

6. Kesimpulan Hasil Audit Pendahuluan
Drai hasil audit pendahuluan, auditor harus membuat kesimpulan atas hasil audit pendahuluan yang telah dilakukan. Kesimpulan ini akan menjadi dasar dalam menentukan langkah-langkah yang akan diambil dalam tahapan audit selanjutnya.

Review Terhadap Pengendalian Manajemen
Sistem pengendalian manajemen merupakan sistem yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis informasi, mengevaluasi dan memanfaatkannya serta berbagai tindakan yang dilakukan olehmanajemen dalam melakukan pengendalian. Suatu sistem pengendalian manajemen harus dapat menjamin bahwa perusahaan telah melaksankan strateginya dengan efektif dan efisien. Karakteristik sistem pengendalian manajemen yang baik mencakup hal-hal sebagai berikut:

1. Pernyataan tujuan perusahaan.
Tujuan suatu perusahaan harus dinyatakan dengan jelas dan disosialisasikan ke berbagai tingkatan manjemen untuk dipahami. Tujuan dapat menunjukkan untuk apa perusahaan didirikan dan apa yang ingin dicapai.

2. Rencana perusahaan yang digunakan untuk mencapai tujuan.
Rencana yang merupakan penjabaran dari tujuan perusahaan, harus disusun untuk mencapai sasaran perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang biasanya juga diikuti dengan penentuan strategi untuk mengimplementasikannya. Rencana biasanya disusun berdasarkan pencapaian terbaik perusahaan pada waktu sebelumnya untuk menentukan pencapaian terbaik berikutnya.

3. Kualitas dan kuantitas SDM yang sesuai dengan tanggung jawab yang dipikul dan adanya pemisahan fungsi yang memadai.
Perencanaan yang telah ditetapkan perusahaan harus didukung oleh ketersediaan SDM yang memadai dalam merealisasikan rencana tersebut.
4. Sistem pembuatan kebijakan dan praktik yang sehat pada masing-masing unit organisasi.
Untuk mendukung praktik yang sehat, berbagai kebijakan yang dibuat perusahaan harus dikomunikasikan kepada seluruh pihak yang berkepentingan agar terjadi komunikasi timbal balik antar kedua kelompok kepentingan utama yaitu pihak perusahaan yang diwakili oleh manajemen (direksi) dan karyawan.
5. Sistem penelaahan yang efektif pada setiap aktivitas untuk memperoleh keyakinan bahwa kebijakan dan praktik yang sehat telah dilaksanakan dengan baik.
Sistem review menyangkut bagaimana pihak-pihak yang berwenang melakukan review terhadap berbagai aktivitas/kegiatan yang dilakukan. Elemen sistem review yang baik, pelaksanaan supervisi harus dilaksanakan secarai memadai.

Audit Lanjutan
Audit ini bertujuan untuk memperoleh bukti yang cukup untuk mendukung tujuan audit yang sesungguhnya, yang telah ditetapkan berdasarkan hasil review dan pengujian pengendalian manajemen. Pada tahap ini auditor harus mampu mengungkap lebih lanjut dan menganalisis semua informasi yang berkaitan dengan tujuan audit, sehingga akhirnya dapat disusun suatu kesimpulan audit dan dibuat rekomendasi yang dapat diterima oleh objek audit. Langkah-langkah audit pada tahap ini meliputi:
1. Mengumpulkan tambahan informasi latar belakang objek audit yang diperlukan.
Langkah ini menekankan pada usaha untuk mendapatkan data yang lebih lengkap alam menganalisis aktivitas yang diaudit sebagai dasar pembuatan kesimpulan audit.

2. Memperoleh bukti-bukti yang relevan, material, dan kompeten.
Dari sudut pandang auditor, bukti adalah fakta dan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pembuatan kesimpulan audit. Agar dapat digunakan sebagai dasar pembuatan kesimpulan audit, semua bukti yang diperoleh dalam audit harus memenuhi kriteria:
- Relevan
- Material
- Kompeten
- Cukup

3. Membuat ringkasan atas bukti yang telah diperoleh dan mengelompokkannya ke dalam kelompok kriteria, penyebab, dan akibat.
Bukti-bukti yang telah diperoleh dalam audit kemudian diringkas dan dikelompokkan sesuai dengan elemen tujuan audit yang meliputi : kriteria, penyebab, dan akibat.

4. Menyusun kesimpulan atas dasar ringkasan bukti yang telah diperoleh dan mengidentifikasi bahwa akibat yang ditimbulkan dari ketidaksesuaian antara kondisi dan kriteria cukup penting dan material. Kesimpulan ini merupakan pemantapan temuan hasil audit.
Pengembangan temuan merupakan pengumpulan dan sintesa informasi khusus yang bersangkutan dengan program/aktivitas yang diaudit, dievaluasi dan yang dianalisis karena diperkirakan akan menjadi perhatian dan berguna bagi pengguna laporan. Pengembangan temuan harus dilanjutkan terus selama temuan tersebut diyakini memberikan informasi yang mendukung keakuratan kesimpulan audit.

Pelaporan
Bagian akhir dari proses audit manajemen adalah pelaporan hasil audit. Ada dua cara penyajian laporan audit manajemen, yaitu :
1. Cara penyajian yang mengikuti arus informasi yang diperoleh selama tahapan-tahapan audit.

2. Cara penyajian yang mengikuti arus informasi yang menitikberatkan penyajian kepada kepentingan para pengguna laporan hasil audit ini.
Laporan memuat kesimpulan audit tentang elemen-elemen atas tujuan audit dan rekomendasi yang diberikan untuk memperbaiki berbagai kekurangan yang terjadi serta rencana tindak lanjut dalam mengaplikasikan rekomendasi tersebut.

Tindak Lanjut
Implementasi tindak lanjut atas rekomendasi yang diberikan auditor merupakan bentuk komitmen manajemen dalam meningkatkan proses dan kinerja perusahaan atas beberapa kelemahan/kekurangan yang masih terjadi. Auditor tidak memiliki kewenangan memaksa dan menuntut manajemen untuk melaksanakan tindak lanjut sesuai dengan rekomendasi yang diberikan, tetapi lebih menempatkan diri sebagai supervisor atas rencana, pelaksanaan, dan pengendalian tindak lanjut yang dilakukan. Rekomendasi seharusnya merupakan hasil diskusi dan rumusan bersama antara manajemen dan auditor, dan juga harus menyajikan analisis dan manfaat yang diperoleh perusahaan jika rekomendasi tersebut dilaksanakan, serta kerugian yang mungkin terjadi jika rekomendasi tidak dilaksanakan karena tidak ada tindakan perbaikan yang dilakukan perusahaan.

Sunday, October 14, 2012

Regresi Logistik


Regresi logistik adalah bagian dari analisis regresi yang digunakan ketika variabel dependen (respon) merupakan variabel dikotomi. Variabel dikotomi biasanya hanya terdiri atas dua nilai, yang mewakili kemunculan atau tidak adanya suatu kejadian yang biasanya diberi angka 0 atau 1.

Tidak seperti regresi linier biasa, regresi logistik tidak mengasumsikan hubungan antara variabel independen dan dependen secara linier. Regresi logistik merupakan regresi non linier dimana model yang ditentukan akan mengikuti pola kurva seperti gambar di bawah ini.
Model yang digunakan pada regresi logistik adalah:

Log (P / 1 – p) = β0 + β1X1 + β2X2 + …. + βkXk

Dimana p adalah kemungkinan bahwa Y = 1, dan X1, X2, X3 adalah variabel independen, dan b adalah koefisien regresi.

Regresi logistik akan membentuk variabel prediktor/respon (log (p/(1-p)) yang merupakan kombinasi linier dari variabel independen. Nilai variabel prediktor ini kemudian ditransformasikan menjadi probabilitas dengan fungsi logit.

Regresi logistik juga menghasilkan rasio peluang (odds ratios) terkait dengan nilai setiap prediktor. Peluang (odds) dari suatu kejadian diartikan sebagai probabilitas hasil yang muncul yang dibagi dengan probabilitas suatu kejadian tidak terjadi. Secara umum, rasio peluang (odds ratios) merupakan sekumpulan peluang yang dibagi oleh peluang lainnya. Rasio peluang bagi prediktor diartikan sebagai jumlah relatif dimana peluang hasil meningkat (rasio peluang > 1) atau turun (rasio peluang < 1) ketika nilai variabel prediktor meningkat sebesar 1 unit.

Lebih jelasnya kita dapat mengikuti ilustrasi berikut ini:

Jika kita ingin mengetahui pembelian kosmetik merk tertentu oleh beberapa orang wanita dengan beberapa variabel penjelas antara lain adalah umur, tingkat pendapatan (low, medium, high), dan status (M – menikah; S untuk single). Pada data tersebut, pembelian merupakan variabel prediktor yang dijelaskan dengan angka 1 sebagai membeli dan 0 sebagai tidak membeli.

1. Dengan SPSS 17.0 data yang diinput dapat berupa:

2. Setelah data diinput, pilih Analyze – Regression – Binary logistic seperti berikut:
3. Setelah muncul kotak dialog logistic regression, masukkan variabel dependen purchase ke kolom dependent, dan ketiga variabel independen ke dalam kolom covariates, lalu pilih button categoricaluntuk memasukkan variabel kategorik yaitu pendapatan dan status – klik continue:

 

4. Setelah itu pilih option, checklist classification plot dan Hosmer-lemeshow goodness of fit, kemudian continue:
 5. Kemudian pada method pilih enter, kemudian klik OK:

6. Output yang didapatkan adalah sebagai berikut:

Output Case Processing Summary menghilangkan variabel yang tidak diperhitungkan dalam model.

Output classification table diatas menjelaskan bahwa persentase variabel yang diprediksi sebesar88,9 persen adalah baik, dan dari perbandingan antara kedua nilai mengindikasikan tidak terdapatnya masalah homoskedastisitas (asumsi model logit).

Pada output variables in equation signifikansi adalah 0,05 artinya model tidak signifikan dan dengan demikian terima H0.

Pada output omnibus test menyatakan bahwa hasil uji chi-square goodness of fit lebih kecil dari 0,05, ini mengindikasikan bahwa model adalah signifikan.

Hasil output pada Cox-Snell R2 dan Nagelkerke R memiliki analogi sama dengan nilai R-square padaregresi linier, menyakatan bahwa sebanyak 50,2 persen keragaman dapat dijelaskan oleh model, sedangkan sisanya diluar model.

Hasil pada output Hosmer and Lemeshow Goodness-of-Fit Test mengindikasikan bahwa kita dapat menerima H0 karena lebih dari 0,05 (1 > 0,05).


output variables in the equation menunjukkan nilai signifikansi berdasarkan Wald Statistic, jika model signifikan, maka nilai sig. adalah kurang dari 0,05.

Kolom Exp(B) menunjukkan nilai odds ratio yang dihasilkan. Nilai odds ratio yang hanya mendekati 1,0 mengindikasikan bahwa variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen.

Output classplot diatas menunjukkan prediksi pada regresi logistik. Sumbu X menujukkan probabilitas yang diprediksi, sedangkan sumbu Y menunjukkan jumlah kasus yang diamati.